Balada sang Jokowiphobia Rocky Gerung, sang Socrates yang Gagal

· | JOE HOO GI | 12/08/2023
Balada sang Jokowiphobia Rocky Gerung, sang Socrates yang gagal
Tidak perlu arogan menganggap pendapat Anda yang paling benar sendiri sehingga setiap ada kebijakan yang tidak sejalan dengan kemauan Anda lantas Anda bullying lewat hujatan dan hinaan

JOEHOOGI.COM - Ketika dia melontarkan wacana perihal kitab suci itu sebagai kitab yang fiksional pada acara talkshow ILC 4 April 2018 di TV One, maka saat itu saya menyebut pemikirannyanya hadir  sebagai sosok Sang Freudian. Lihat tulisan saya sebelumnya berjudul Memahami Freudian Bernama Rocky Gerung.

Argumen-argumen kritiknya kepada Pemerintah selama ini yang selalu bertumpu kepada logika akal sehat, tidak sedikit dari kawannya menyebut sebagai Sang Socrates. Tapi ketika blunder kritiknya yang terjangkit Jokowiphobia disampaikan lewat podium aksi buruh di Bekasi,29 Juli 2023 maka saat itu saya menyebutnya sebagai sosok sang Socrates yang gagal. 

Meneladani Jejak Filsuf Socrates


Jika kita menyimak jejak sosok filsuf Socrates dalam membangun komunikasinya, maka setiap penyampaian ide-idenya melalui kritik tidak pernah disertai dengan abusive and derogatory narrative kepada  kebijakan raja yang dianggapnya salah dan sesat.

Socrates melakukan perlawanan kepada kebijakan kerajaan absolut pada waktu itu bertumpu kepada argumen-argumen yang rasional. Teori Socrates tidak pernah disampaikan melalui hateful narratives nested in emotional expression.

Meskipun ide Socrates jauh dari narasi kebencian tapi sistem kekuasaan pada waktu itu menolak teori yang berbeda dengan konsep kepala kerajaan, sehingga Socrates harus dihukum mati, sebagaimana dialami oleh ilmuwan Galileo Galilei yang menawarkan teorinya Matahari Pusat Tata Surya juga bernasib sama.

Jokowiphobia Rocky Gerung Sosok Socrates yang Gagal


Kondisi ini berbeda dengan Freudian Rocky Gerung yang terjangkit Jokowiphobia sehingga menyampaikan ide-ide kritiknya melalui narasi hujatan penuh kebencian. Bukan karena kritik an-sichnya, melainkan narasi hujatan inilah yang menjadikan Freudian Rocky Gerung mengalami Jokowiphobia sebagai sosok Socrates yang gagal.

Hak dari Jokowiphobia Rocky Gerung untuk berbeda pendapat dengan kebijakan Presiden perihal IKN. Hanya saja convey disapproval through a sentimentless argument  kepada kebijakan Presiden soal IKN sebab antara rasional dan emosional selamanya tidak akan pernah bisa bertemu.

Berbeda Pendapat Dianggapnya Dungu dan Bodoh


Tampaknya sudah menjadi style perangai seorang Jokowiphobia Rocky Gerung pada setiap perdebatan ide-ide, Jokowiphobia Rocky Gerung tidak pernah menghargai perbedaan pendapat kepada setiap lawan bicaranya. Siapa saja yang berbeda pendapat dengan Jokowiphobia Rocky Gerung always got bullied sebagai dungu, tolol dan bodoh dan cemooh lainnya.  

Please convey criticism based on common sense without having to ridicule and insult those you criticize. Offer criticism without having to place your most self-righteous critique. Pernyataan ini yang tampaknya belum pernah dimiliki oleh Jokowiphobia Rocky Gerung.

Tidak perlu arogan dengan menganggap pendapat Anda yang paling benar sendiri, sehingga ketika ada perbedaan pendapat atau tidak sejalannya Anda dengan kebijakan yang ada lantas Anda bullying lewat menghujat dan menghina. Berdebatlah secara rasional ketika ada perbedaan pendapat dan proteslah kebijakan yang Anda anggap salah tanpa harus bullying lewat menghujat dan menghina.

Kepada Kepala Negara saja Anda berani menghujat dan menghina ketika Anda tidak sependapat dengan kebijakannya lantas bagaimana dengan kebijakan orangtua kandung Anda sendiri yang kebetulan Anda tidak sependapat? Apakah juga diperlakukan sama bullying lewat menghujat dan menghina ketika Anda tidak sejalan dengan kebijakannya? 

Catatan Penutup


Akhirulkalam, sampailah kepada pesan terakhir saya ,agar Rocky Gerung tidak berakhir menjadi Freudian yang Jokowiphobia, sang Socrates yang gagal, kepada siapa saja, tidak hanya berlaku kepada Kepala Negara, tapi kepada ketua rt, rw, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur, orang tua kandung sendiri, saudara, kerabat, teman, tetangga, pacar, istri, suami, anak dan lain-lain: sampaikan kritik dan protes tanpa harus bullying lewat menghujat dan menghina.

Joe Hoo Gi
JOE HOO GI
Penulis reflektif multidimensi yang merespon beragam realitas isu berdasarkan analisis pribadi yang kritis, jujur, bebas dan independen.






Bacaan Terkait